Social Icons

Rabu, 10 Maret 2010

Kasih Sayang Allah melebihi Kasih Sayang Seorang Ibu Kepada Anaknya.

Setiap makhluk yang diciptakan Allah di muka bumi ini pasti sudah di persiapan oleh Allah segala kebutuhaan yang diperlukan oleh makhluk tersebut, termasuk juga manusia. Semua manusia yang lahir dan hidup di atas bumi ini sudah disediakan oleh Allah, siapa jodohnya, bagaimana rezeki dan kehidupannya, dan sebangainya. Sekarang kembali kepada manusianya, apakah ia mau berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan fasilitas yang telah disiap oleh Allah tersebut.

Untuk mendapatkan fasilitas itu di butuhkan perjuangan, pengorbanan dan tidak akan mungkin segala fasilitas itu datang dengan sendirinya. Terkadang, Allah memberi nikmat itu melalui ujian yang berat, jika mampu melewati ujian itu, maka akan mendapatkan kebaikan yang luar biasa.
Ketika mendapatkan ujian, kita sering berpikir bahwa Allah tidak sayang kepada kita kerena Dia telah memberikan ujian yang menurut kita ujian itu terlalu berat untuk kita, tapi kita jarang sekali berpikir bahwa ujian itu adalah merupakan wujud dari kasih sayang Allah kepada sang hamba kerana dengan adanya ujian itu biasanya sang hamba sadar dan mendekatkkan diri serta mohon pertolongan kepada Sang Kholik.

Nabi Saw pernah mengatakan "ketika Allah mencintai hamba-Nya, Ia pasti akan mengujinya". (HR. Muslim). Jika kita mengetahui hal itu, seharusnya kita bersyukur ketika menerima sebuah ujian, akan tetapi pada umumnya banyak yang tidak mengetahui dan menyadari hal itu.

Dalam menghadapi ujian yang di berikan Allah tersebut, manusia selalu lemah dan berputus asa dan mengadukan serta memohon pertolongan  kepada Tuhannya agar bisa keluar dari masalahnya. Namun setelah Allah berikan jalan keluar dari ujian itu, biasanya manusia lupa bahwa ia pernah menderita dan mendapat ujian, lalu ia melupakan Tuhannya. Jika ia mendapatkan ujian kembali maka ia kembali kepada Tuhannya, begitulah seterusnya.

Walaupun seperti itu sikaf manusia, sering melupakan Allah, jarang bersyukur ketika mendapat nikmat, berkeluh kesah ketika mendapatkan ujian, namun Allah tetap memberikan fasilitas hidup kepada orang-orang seperti, masih diberikan rezki, nikmat kesehatan, nikmat berkasih sayang, nikmat umur, nikmat berkeluarga  nikmat persahabatan dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa Allah sungguh benar-benar sayang kepada hambanya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Ingatlah kepada Allah ketika kita senang dan mendapat nikmat agar ketika kita mendapat ujian dan kesulitan hidup, Allah akan mengingat kita dan memberikan jalan keluarnya.

Bahagia Dunia Akhirat.
from my blog: http://zulkiflihazmar.blogspot.com/
 

Senin, 01 Maret 2010

Belajar Ikhlas

"Iklas" merupakan sebuah kata yang sangat mudah di ucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan. Kita sering sekali mengdengar orang-orang mengucakan kata Ikhlas dan sangat fasih sekali ketika ia mengucapkan kata tersebut.

Seperti contoh,  Ketika seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain, misalnya sebuah buku. Pada saat buku itu di berikan ia berkata "Buku ini kuberikan kepadamu dengan Ikhlas". Namun beberapa hari kemudian ia memohon bantuan kepada orang ia beri buku itu, akan tetapi orang tersebut tidak bisa membantunya, lalu ia mengomel dan marah kepada orang itu serta mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah ia perbuat kepada orang tersebut.

Apakah seperti ikhlas itu? 
Sebenarnya apa sih pengertian "Ikhlas" itu?

Sangat banyak sekali para ulama yang mendefenisikan kata ikhlas, namun pengertiannya tidak jauh berbeda. Intinya adalah menunjukkan seluruh ibadah yang di lakukan karena Allah bukan karena yang lain. Seperti yang di katakan oleh Sahl ibn Abdullah: "ikhlas adalah menjadikan seluruh gerak dan diam hanya untuk Allah SWT".

Pada umumnya orang sangat mudah sekali mengatakan ikhlas ketika melakukan sesuatu, tapi yang dilakukannya itu karena Allah  atau tidak? hanya dia dan Allah yang tahu. Mungkin alangkah baiknya jika kita melakukan sesuatu perbuatan baik, tidak perlu mengakatan bahwa "ini ikhlas" atau "saya sangat ikhlas melakukanny", dan seterusnya, biar lah Allah yang tahu atas apa yang kita berbuat karena ditakutkan ketika kita mengatakan itu ikhlas, maka sifat ria bisa muncul. Jika itu terjadi bisa rusaklah amal kebaikan yang telah kita lakukan, na'uzubillah min zalik.

Pada zaman Rasulallah Saw, di pinggir sebuah kota di Madinah hidup seorang fakir,  pengemis tua yang buta, beragama Yahudi. Si pengemis ini mempunyai kebiasaan ketika ada orang lewat atau mendikati dia, maka ia akan mengatakan: "tukang sihir Muhammad, penipu, pendusta Muhammad" akan tetapi setiap pagi juga Rasulallah Saw memberi makan si pangemis tua yang buta itu dan tentunya setiap pagi juga Rasulallah mendapatkan kata-kata yang menyakitkan dari mulut si pengemis tersebut.

Suatu ketika Rasulallah Saw meninggal dunia, lalu diangkatlah Abu Bakar menjadi Khalifah untuk meneruskan perjuangan Beliau. Abu Bakar ini adalah orang yang paling dekat dengan Rasulallah dan segala apa yang diperbuat oleh Rasulallah dilakukan juga oleh Abu Bakar.

Abu Bakar berbicara kepada anaknya Aisyah (yang juga istri Rasulallah Saw) " ayah rasa semua sunnah Rasulallah telah ayah lakukan". Lalu Aisyah berkata: "Belum ayah". Kemudian Abu Bakar bertanya: "apa itu sunnah Rasul yang belum ayah lakukan?" "memberi makan seorang fakir Yahudi di ujung kota Madinah", jawab Aisyah.

Abu Bakar kemudian pergi ke sana dan menemui pengemis tersebut, namun apa yang terjadi, ketika Abu Bakar mendekati pengemis itu muncullah kebiasaanya, "tukang sihir Muhammad, penipu, pendusta Muhammad", Abu Bakar sangat kaget sekali mendengar perkataan tersebut. Ketika Abu Bakar memberi makan kepada pengemis itu, lalu pengemis itu berkata: "Siapa kamu?" Abu Bakar menjawab: "saya adalah orang yang memberi makan kamu setiap harinya". "tidak! kamu bukan oranng yang memberi aku makan setiap harinya, karena orang yang memberi aku makan itu langsung menyuapkannya kemulutku" jawab si pengemis itu dengan santainya.

Abu Bakar meneteskan air mata mendengar pengakuan si pengemis tersebut, sungguh mulia akhlas Rasullallah, pikirnya. Lalu Abu Bakar mengatakan: "tahukah kamu siapa orang yang memberi makan kamu setiap harinya? itulah dia, Muhammad Saw, yang setiap harinya kamu caci dan kamu hina. Sekarang Beliau sudah meninggal dunia, kembali menghadap Allah". Mendengar penjelasan seperti itu, si pengemis itu menangis sejadi-jadinya dan menyesali perbuatan yang telah ia lakukan, kemudian langsung keluar dari mulutnya "Asyhadu allaa ilaa haillallah, wa asyhadu anna muhammadarrasulallah"

Subhanallah, sungguh sangat tinggi akhlak yang di contoh oleh Rasulallah. Itulah contoh perbuatan ikhlas yang sebenarnya.

Semoga kita bisa belajar dari carita ini dan mencontoh apa yang telah diperbuat oleh Rasulallah sebagaimana yang banyak tertera dalam hadits Beliau.

Semoga kita termasuk orang-orang yang Mukhlisin.
Amin. 
 Bahagia Dunia Akhirat.
from my blog: http://zulkiflihazmar.blogspot.com/

Powered By Blogger
 
Blogger Templates